Senin, 23 Juli 2012


LAHAN ANDA SAKIT? INI OBATNYA
Nunung Nurhadi
Widyaiswara Muda BBPP Ketindan

Apakah lahan anda sakit? Apakah lahan anda tidak mengeluarkan hasil yang optimal? Mari kita lihat apa sebab dan solusinya.
Sebelumnya akan saya ajak anda untuk membayangkan bahwa anda mempunyai lahan seluas 1 hektar , asumsikan lahan tersebut anda tanami dengan padi. Sebagai umumnya petani, berapa banyak pupuk yang diaplikasikan? Jawaban yang sangat umum adalah, total jumlah pupuk urea + SP36 + KCl atau Phonska rata rata 250 kg. Dari input yang kita berikan itu, coba kita hitung berapa banyak yang kita hasilkan dari lahan kita yang satu hektar tadi. Yang pertama gabah, kita menghasilkan gabah rata rata 5 ton perhektar. Yang kedua jerami, kita menghasilkan jerami +2 kali lipat dari tonase gabah yang artinya kita hasilkan juga jerami +10 ton. Total yang kita dapat 15 ton perhektar. Kemudian pertanyaanya, kita kemanakan jerami yang kita hasilkan? Sebagian mengatakan untuk pakan ternak, untuk budidaya jamur dan sebagainya, tetapi jawaban yang paling banyak adalah “jerami dibakar”. Secara hitungan matematis sederhana, dari input yang kita berikan ke lahan 250kg berupa pupuk anorganik dan hasil yang kita ambil 15 ton berupa gabah dan jerami, didapatkan minus 14.5 ton. Sekali lagi, minus 14,5 ton  yang sudah kita eksploitasi pada lahan seluas 1 hektar dalam 1 musim tanam. Kalau hal itu dilakukan 1 tahun dengan 3 kali musim tanam, maka kita sudah mengekploitasi sebanyak 43,5 ton dari lahan 1 hektar. Bagaimana kalo lahan itu kita ekploitasi sejak petani benar benar mainded dengan pupuk organik, tahun 1970an? Silahkan hitung sendiri. Dapat kita bayangkan seberapa sakitnya tanah kita sekarang ini, padahal secara hakiki tanah yang kita miliki sekarang ini bukan milik kita secara mutlak tetapi titipan dari anak cucu kita. Kalau kita tidak memulai dari sekarang untuk mengembalikan bahan organic yang dihasilkan oleh lahan kita, dapat bagian apa anak cucu kita? Dari ilustrasi tadi dapat disimpulkan bahwa kita terlalu banyak mengeksploitasi lahan kita tanpa memperhatikan apa yang harus dikembalikan ke lahan, minimal seharusnya kita mengembalikan jerami agar ekploitasi yang kita lakukan tidak berlebihan.
Untuk mensosialisasikan penggunaan pupuk organik secara meluas memang tugas berat bagi aparatur pertanian, pada saat sosialisasi tentang penggunaan pupuk anorganik pada masa revolusi hijau. Sosialisasi pupuk anorganik memang awalnya agak sulit tetapi akhirnya sangat mudah karena petani bisa melihat dampak penggunaan pupuk anorganik hanya dalam beberapa hari saja, sehingga petani berbondong bondong mengikuti. Ditambah lagi adanya kebijakan pemerintah dalam sosialisasi dengan banyaknya demplot dan pemberian subsidi harga pupuk anorganik. Namun untuk sosialisasi penggunaan pupuk organik adalah masalah yang sangat lain. Selain dampak penggunaan pupuk ini tidak dapat dilihat dalam beberapa hari bahkan beberapa bulan, juga sangat minimnya demplot sehubungan dengan sosialisasi penggunaan pupuk organik ini. Memang saat ini masyarakat sudah banyak yang tersadar pentingnya penggunaan pupuk organik, apalagi kalau komoditas yang ditanam adalah hortikutura. Berdasarkan interview yang penulis lakukan kepada petani yang bergerak dibidang budidaya hortikultura, didapatkan informasi bahwa penggunaan pupuk organik sangat diperlukan dalam rangka perbaikan struktur tanah dan daya tahan terhadap penyakit. Juga makin banyak petani tanaman pangan yang  tersadar akan pentingnya penggunaan pupuk organik yaitu petani yang mengaplikasikan SRI (System Rice of Intensification) dan PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu), tapi masih banyak juga petani yang enggan dan tidak mau menggunakan pupuk organik karena berbagai alasan.
Berikut ini adalah pengujian tentang tanahyang menunjukkan keunggulan bahan organik. Sudah kenalkah anda dengan SRI (System of Rice Intensification)? Dalam metode ini disebutkan tentang pembelajaran ekologi tanah sebagai dasar atau pangkal dari pertanyaan “Kenapa harus Bahan Organik?”. Metode atau cara pengujian yang disodorkan sangat sederhana baik dari cara maupun alatnya itu sendiri, cukup dari botol plastik bekas minuman mineral. Berikut adalah beberapa item pengujian tersebut :
AERASI TANAH
Udara dan air akan mengisi pori-pori tanah. Banyaknya pori-pori dalam tanah kurang lebih 50 % dari volume tanah, sedangkan jumlah air dan udara dalam tanah berubah ubah.Pori-pori tanah dapat dibedakan menjadi pori-pori kasar dan pori-pori halus. Pori-pori kasar berisi udara atau air yang mudah hilang karena gaya gravitasi, sedang pori-pori halus berisi air kapiler dan udara. Tanah yang tergenang maka semua pori-porinya terisi air, sedang pada tanah lembab air mengisi pori-pori mikro tanah dan udara mengisi pori-pori tanah yang tidak terisi air.
Tujuan pengujian adalah ingin melihat kandungan aliran udara dalam tanah. Kita ketahui bersama bahwa padat kurang sekali memiliki sirkulasi udara, disisi lain tanaman memerlukan udara dalam tanah berkaitan dengan penyerapan nutrisi oleh akar dan metabolismenya.
Cara pengujian aerasi tanah tersebut dapat dilakukan dengan:
a.       Sediakan beberapa macam tanah, misalkan tanah sawah, tanah berpasir, dan tanah yang banyak mengandung bahan organik,
b.      Lalu masukan masing masing tanah tersebut kedalam botol bekas air kemasan.

c.       Hubungkan balon yang berisi udara dengan mulut botol yang sudah berisi tanah masing masing, dan dalam waktu yang bersamaan.
d.      Balon yang lebih cepat kempes memperlihatkan bahwa tanah yang bersangkutan memiliki aerasi yang lebih baik. Tanah yang mengandung bahan organik dan tanah berpasir menunjukan aerasi yang baik.


Percobaan sederhana ke 2 untuk aerasi tanah dengan menggunakan paralon berlubang.
a)      Sediakan beberapa macam tanah, misalkan tanah sawah, tanah berpasir, dan tanah yang banyak mengandung bahan organik, sediakan pula paralon dengan diameter 0,5 dm dan panjang 30 cm yang telah disumbat bawahnya dengan plastik dan dilubangi dengan solder pada sisi bawahnya.
b)      Lalu masukan masing masing tanah tersebut kedalam paralon yang telah dilubangi tadi, serta masukkan air ¾ bagian dari botol air minum kemasan.
c)       Masukkan paralon yang berisi macam macam tanah tadi kedalam botol yang berisi air, kemudian hubungkan balon yang berisi udara dengan mulut paralon yang sudah berisi tanah masing masing, dan dalam waktu yang bersamaan.
d)      Balon yang lebih cepat kempes memperlihatkan bahwa tanah yang bersangkutan memiliki aerasi yang lebih baik. Tanah yang mengandung bahan organik dan tanah berpasir menunjukan aerasi yang baik.






TEKSTUR DAN STRUKTUR TANAH

Tekstur tanah terbangun atas komposisi bahan fisik/ partikel tanah seperti pasir, debu, lempung. Ukuran debu, pasir dan lempung bervariasi, yaitu pasir 0.05 – 2 mm, debu 0.05 – 0.002 mm dan liat < 0.002 mm.
Ukuran partikel berhubungan erat dengan sirkulasi udara dan air, kemampuan serapan air/ nutrisi/ unsur hara. Jumlah lempung pada tanah akan berpengaruh pada tingkat kesuburan tanah. Tekstur tanah akan berubah dari waktu ke waktu, tergantung masukan atau perubahan partikel tanah. Sedangkan tekstur tanah sangat dipengaruhi oleh pengolahan tanah yang dilakukan petani.
Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir butir tanah,  gumpalan struktur ini terjadi karena butir butir pasir, debu dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat. Gumpalan kecil ini mempunyai bentuk, warna dan kemantapan/ ketahanan yang berbeda beda. Tanah dikatakan tidak berstruktur apabila butir butir tanah tidak melekat satu sama lain dan disebut lepas, misalnya tanah pasir. Tanah dikatakan memiliki struktur tanah yang baik apabila memiliki kemampuan mengikat dan menyerap air/ nutrisi.
Pengujian tekstur tanah bertujuan untuk mengetahui bagian bagian penyusun tanah mulai dari yang kasar sampai yang terhalus. Secara sederhana dapat dilakukan sebagai berikut :
a.       Sediakan bermacam tanah yang seperti tanah sawah, tanah berpasir dan tanah yang mengandung banyak bahan organik masing masing 250 gram.
b.      Selanjutnya tanah diaduk dalam nampan lalu masukan dalam wadah plastik atau bekas air kemasan kemudian dikocok dengan air.
c.       Biarkan selama kurang lebih 2 jam lalu amati bagian bagian seperti butiran butiran mulai dari yang kasar sampai yang halus, tampak akan tersusun mulai dari bawah pasir, liat debu atau bahan organik. Bagian bagian tersebut diukur dengan penggaris sehingga dapat diketahui berapa banyak masing masing bagian penyusun tanah tersebut. Selain itu dari kejernihan air yang terdapat pada masing masing wadah dapat diketahui tanah yang kekurangan bahan organik. Air yang terdapat pada tanah sawah memperlihatkan yang paling jernih, sedangkan tanah yang mengandung bahan organik memperlihatkan yang terkeruh, ini menandakan bahwa tanah sawah kekurangan bahan organik dan banyak mengandung liat.

KEMAMPUAN TANAH MENGIKAT AIR DAN NUTRISI

Kemampuan tanah mengikat dan menyerap air/ nutrisi adalah suatu ukuran dari jumlah air/nutrisi yang dapat diserap dan tidak hilang. Proses penghilangan air dan nutrisi dapat terjadi karena pengaruh penguapan atau proses pencucian. Kemampuan tanah menahan atau mengikat dan menyerap air tergantung pada struktur tanah dan kandungan bahan organik.
Pengujian tanah mengikat/menyerap air atau nutrisi bertujuan untuk mengetahui jenis tanah mana yang lebih kuat mengikat air dan nutrisi. Kita ketahui bahwa tanaman menghendaki tumbuh pada tanah yang mengandung cukup banyak mengandung air dan nutrisi.
Cara pengujian kemampuan tanah mengikat nutrisi adalah sebagai berikut :
a.       Sediakan bermacam tanah yang seperti tanah sawah, tanah berpasir dan tanah yang mengandung banyak bahan organik masing masing 250 gram, dan sediakan pula air 3 gelas kecil atau + 150 cc
Dan dan
b.      Selanjutnya tanah tersebut dimasukkan kedalam wadah plastik atau botol bekas air kemasan yang telah dibagi 2 dan diberi lubang kecil kecil dibagian bawahnya agar air dapat meresap dan menetes. Air yang menetes ditampung dalam wadah plastik.
c.       Tuangkan air yang telah diberi larutan nutrisi dengan volume yang sama kedalam masing masing wadah yang telah berisi tanah.
d.      Selanjutnya kita amati waktu dan banyaknya air yang tertampung. Tampak tanah yang mengandung bahan organik diperlukan waktu kurang lebih 30 menit dan air yang menetes kebawah relatif sedikit. Tanah sawah agak lambat tapi setelah cukup waktu sampai 2 jam air yang tertampung cukup banyak, sedangkan tanah yang berpasir sangat cepat dan air yang tertampung paling banyak. Semakin sedikit air yang tertampung  memperlihatkan bahwa tanah tersebut memiliki kemampuan mengikat air dan nutrisi terhadap arus perkolasi (aliran air yang sesuai dengan gravitasi bumi) yang lebih baik, dan hal tersebut diperlihatkan oleh tanah yang banyak mengandung bahan organik.
Air yang dituangkan pada tanah yang mengandung bahan organik paling sedikit yang menetes kebawah
Air yang dituangkan pada tanah sawah biasa menetes cukup banyak

Air yang dituangkan pada tanah yang berpasir menetes paling banyak

 AIR KAPILER TANAH

Air kapiler terdapat dalam tanah terjadi karena air ditanah diserap oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau keadaan drainase yang kurang baik. Air kapiler terjadi apabila gaya kohesi dan adhesi antara tanah dan air lebih kuat daripada gaya gravitasi bumi. Air ini dapat bergerak kesamping atau keatas dengan gaya gaya kapiler. Air kapiler yang tersedia diserap oleh tanaman.
Cara pengujian air kapiler tanah adalah sebagai berikut :
a.       Sebagai mana pengujian yang dilakukan sebelumnya sediakan bermacam tanah yang seperti tanah sawah, tanah berpasir dan tanah yang mengandung banyak bahan organik masing masing 250 gram, sediakan pula air dengan volume yang sama pada piring kecil.

b.      Masukan masing masing tanah kedalam botol bekas air kemasan yang telah diberi lubang kecil kecil dibawahnya agar tanah dapat menyerap air. Letakan botol botol berisi tanah tersebut pada wadah transparan yang berisi air dengan volume yang sama.
c.       Biarkan dan amati selama 2 jam dan catat berapa kecepatan air mencapai permukaan tanah. Hasilnya menunjukan bahwa air yang tercepat mencapai permukaan tanah  terjadi pada tanah berpasir. Hal ini mengindikasikan bahwa tanah berpasir akan lebih banyak kehilangan air melalui penguapan. Tanah sawah pada urutan kedua dan yang paling lambat adalah tanah yang banyak mengandung bahan organik. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa tanah yang banyak mengandung bahan organik mempunyai kemampuan yang baik dalam hal menyimpan air terhadap penguapan.
Pada tanah sawah air hampir membasahi sebagian besar dari volume tanah yang ada

Pada tanah yang mengandung bahan organik air membasahi sebagian kecil dari volume tanah
Pada tanah berpasir air membasahi seluruh volume tanah

DAYA HANTAR LISTRIK

Daya hantar listrik dalam budidaya tanaman berhubungan dengan perjalanan nutrisi yang diserap tanaman karena salah satu cara tanaman menyerap unsur hara adalah dalam bentuk ion ion positif dan negatif. Untuk menghantarkan ion ion unsur hara tanaman dari tanah ke permukaan akar tanaman diperlukan daya hantar listrik. Tanah yang mengandung banyak bahan organik mempunyai daya hantar listrik yang lebih baik daripada yang tidak  atau sedikit mengandung bahan organik. Bahan organik dapat meningkatkan daya hantar listrik karena dalam bahan organik yang terurai terkandung banyak sekali bahan yang bersifat logam diantaranya berbagai unsur mikro seperti Fe, Mn dan sebagainya. Dalam bahan organik tanah juga mengandung banyak mikro organisme yang merupakan jasad hidup, kita ketahui bersama bahwa jasad hidup juga menghantarkan listrik. Semakin banyak dan padat populasi mikroorganisme yang terdapat dalam tanah maka semakin baik pula daya hantar listrik dalam tanah itu sendiri.
Cara menguji daya hantar listrik adalah sebagai berikut :
a.       Sediakanlah bola lampu 100 watt, pitingan listrik, reng kayu dengan panjang 50 cm dan kabel secukupnya.
b.      Hubungkanlah bola lampu dengan pitingan dan kabel seperti cara biasa, kemudian salah satu elektrode diatur sedemikian rupa hingga mudah dimasukkan dalan cairan yang akan diuji daya hantar listriknya.
c.       Setelah alat uji sederhana tersedia maka sediakanlah macam macam larutan seperti larutan urea, KCl, SP 36, urine, pupuk kandang, jus buah, jus sayuran dan lain lain.
d.      Celupkanlah elektrode yang diputus tadi dalam larutan setelah dihubungkan dengan listrik, apabila listrik menyala terang maka larutan tersebut mempunyai daya hantar listrik yang tinggi.
Larutan bahan organik akan mempunyai nyala yang terang dan makin lama larutan organik itu didiamkan maka akan semakin terang nyala lampu. Hal ini disebabkan karena semakin banyak unsur yang bersifat logam yang terurai dan semakin padatnya populasi mikroorganisme yang berkembang biak dalam larutan itu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tanah yang mengandung banyak bahan organik akan lebih cepat penyerapan nutrisi oleh tanaman.

Bola lampu yang dihubungkan oleh larutan NPK mempunyai nyala yang terang karena kalium mempunyai daya hantar listrik tinggi

Bola lampu yang dihubungkan larutan urea hidup redup sampai mati karena hanya sedikit mengandung unsur mikro yang menghantarkan listrik.


Bola lampu yang dihubungkan oleh larutan tomat yang masih baru menyala agak terang dan apabila larutan semakin lama didiamkan maka nyala lampu semakin terang

Bola lampu yang dihubungkan oleh larutan pupuk kandang yang masih baru menyala agak terang dan apabila larutan semakin lama didiamkan maka nyala lampu semakin terang

Bola lampu yang dihubungkan urine terang

Bola lampu yang dihubungkan oleh larutan tanah berpasir yang miskin bahan organik tidak menyala

Bola lampu yang dihubungkan oleh larutan tanah sawah yang miskin bahan organik tidak menyala

Bola lampu yang dihubungkan oleh air biasa tidak menyala

Dari seluruh pengujian sederhana yang telah dipaparkan tadi dapat disimpulkan bahwa tanah mutlak memerlukan bahan organik. Karena ternyata bahan organik meminimalisir kehilangan air dan nutrisi baik yang disebabkan oleh penguapan dan perkolasi, memiliki daya hantar listrik yang baik sehingga tanaman mudah menyerap nutrisi, memiliki aerasi yang baik sehingga akar menjadi sehat serta memungkinkan kehidupan jasad renik yang mengurai bahan organik sebagai penyumbang nutrisi tanaman.
Jadi ”Apakah lahan anda sakit?” Bahan organiklah obatnya.


 WASPADAI LEDAKAN WERENG PUNGGUNG PUTIH
    
Nunung Nurhadi, SP
Widyaiswara Muda BBPP Ketindan

Wereng punggung putih atau Sogatella furcifera Horvarth sebelumnya memang bukan hama yang tergolong berbahaya bagi tananaman padi tetapi sekarang wereng ini merupakan hama yang patut untuk diperhitungkan. Berdasarkan seminar yang kami ikuti di Pusat Penelitihan Tanaman Pangan di Bogor yang dipresentasikan oleh Prof. Baehaki S.E. kami mendapat informasi ini.
Wereng ini menyebar luas diwilayah Palaeartik (Jepang, Korea, Mongolia, Kep. Sakalin, Uni Soviet da Kep. Kurile), wilayah oriental (Bangladesh, Burma, Kamboja, India, Indonesia, Malaysia, Pakistan, Sabah, Sarawak, Taiwan, Muangthai, Vietnam, Sri lanka, dan Filipina), wilayah Australia (Australia Mikronesia, New Hibrides, Kep.Solomon) dan wilayah Neotropika (Kep. Karibia dan Brazil).  Di Indonesia wereng punggung putih merupakan serangga yang dikenal sejak tahun  1930.   Pada MH 1982/83, hama ini telah menyerang pertanaman padi berumur 2-3 minggu setelah tanam seluas 500 ha di Perum Sang Hyang Seri. Varietas yang diserang ialah Cisadane, Cipunagara, Krueng Aceh, dan galur GH 147. 
Sebelum tahun 1995 wereng punggung putih bukan merupakan hama potensial menyerang tanaman padi, setelah tahun tersebut hama ini mulai memperlihatkan perkembangan yang pesat mengimbangi perkembangan wereng coklat.  Pada awalnya wereng punggung putih banyak menyerang varietas padi yang di datangkan dari IRRI, namun pada saat ini banyak menyerang varietas padi yang dirakit di Indonesia selain varietas yang didatangkan dari luar negeri. Wereng punggung putih pada awalnya merupakan serangga k-strategik yang mempunyai ciri perkembangbiakannya sangat lamban dan populasinya stabil rendah. Selanjutnya perkembangan populasi wereng punggung putih mulai mengarah kepada serangga yang r-strategik dengan ciri yang sama seperti pada wereng coklat.  
Mulai tahun 2000 populasi wereng punggung putih mengikuti gerakan serangga r-strategik dan di jalur pantura mendominasi populasi wereng coklat dan pada tahun 2009 sudah mulai menimbulkan ledakan sampai mati terbakar (hopperburn) pada tanaman padi hibrida SL-8.   Oleh karena itu perlu kewaspadaan terjadinya ledakan wereng punggung putih atau campuran wereng punggung putih dan wereng coklat.
  Hal ini di tunjang dengan data spot hopperburn pada tahun 2009 yang dilaporkan dari Provinsi Yunan-China dengan tangkapan pada bulan Mei mencapai 92.000 ekor dan pada bulan April mencapai 65.368 ekor dan total tangkapan perioda Maret sampai pertengahan Mei mencapai 100.000-200.000 ekor (Cheng, 2009).  Daerah yang terserang adalah 56 tempat (400.000 ha) di Yunan Selatan yang berdekatan dengan Vietnam-Laos-Thailand dengan kepadatan 10-30 ekor per rumpun dan populasi tertinggi mencapai 525 ekor/rumpun
Di beberapa negara Asean dan China penelitian terhadap wereng punggung putih sudah sejak lama dilakukan, karena ternyata varietas yang tahan wereng coklat setelah diuji ketahanan terhadap wereng punggung putih banyak yang tidak tahan.  Hasil-hasil penelitian varietas terhadap wereng punggung putih banyak dilaporkan oleh Velusammy et al (1993), M. Riaz et al (1993), Chi (1992) dan Tsung (1991).
Penelaahan kejadian sejak 1985-1995, maka daerah hama dan penyakit di Indonesia pada awalnya dibagi dalam 2 kelompok yaitu Single Dangerous Pest Area (SDPA) dan Double Dangerous Pests Areas (DDPA), kemudian berkembang menjadi Triple Dangerous Pests Areas (TDPA) (Baehaki dan Hasanuddin, 1995).  SDPA yang disebabkan oleh tungro Sulsel, NTT, Maluku, dan Irian Jaya. SDPA yang disebabkan oleh wereng coklat Aceh, Sumut, Riau, dan Lampung).  DDPA yang disebabkan oleh tungro dan wereng coklat adalah  Sumbar, Jambi, Sumsel, Jateng, Yogyakarta, Jatim, Bali, Kalbar, Kalsel, Kaltim, Sulut, Sulteng, Sultera, NTB.  DDPA yang disebabkan wereng coklat dan penggerek adalah Jabar,  kemudian berkembang menjadi TDPA yang disebabkan oleh wereng coklat, wereng punggung putih, dan penggerek, bahkan menurut data akhir di Jabar akan terjadi.
Dalam hal serangan wereng coklat dan wereng punggung putih terjadi fluktuasi memberikan indikasi bahwa wereng punggung putih bergerak dengan cepat menjadi hama yang mengungguli perkembangan wereng coklat. Dan dari hasil pengujian ketahanan varietas terhadap wereng punggung putih dan wereng coklat biotipe 2 dan 3 menunjukkan bahwa ada beberapa varietas yang tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3, menjadi rentan terhadap wereng punggung putih. Demikian juga varietas yang tahan terhadap wereng coklat hampir seluruhnya kurang tahan terhadap wereng punggung putih.
Tabel . Uji ketahanan varietas padi terhadap wereng coklat dan wereng punggung putih Sukamandi, Oktober 2001.
Varietas
Gen tahan
Skor terhadap Wereng coklat
Skor terhadap Wereng punggung putih
Biotipe 2
Biotipe 3
IR26
IR42
IR64
IR74
TN1
Mudgo
ASD7
Rathu heenati
Swarnalata
PTB33
Muncul
Sintanur
Ciherang
Maros
Cisadane
Membramo
IR39357
B9307f
BP1153c
S4325D
B10177b
Bph1
bph2
Bph1+
Bph3
-
Bph1
bph2
Bph3
Bph5
bph2+Bph3
R
AT
T
ST
SR
AR
AT
ST
ST
ST
AR
R
T
T
AT
ST
AT
T
R
T
AT
AR
R
AT
ST
SR
R
R
ST
ST
ST
R
AR
AT
AT
R
T
AT
AT
R
AT
AT
R
-
AT
AT
SR
R
R
T
R
AT
AT
AT
AT
AT
R
R
AR
SR
R
AT
AR
Keterangan:  1=ST (sangat tahan), .1-3 = T (Tahan), >3-5= AT (Agak Tahan), >5-7 = AR (Agak rentan), >7-<9 = R (Rentan), dan 9 = SR (sangat Rentan)

Kenyataan perbedaan ketahanan varietas padi tersebut terhadap wereng coklat dan wereng punggung putih ternyata selaras dengan percobaan peneliti di China yang menguji ketahanan hibrida terhadap wereng tersebut di atas.

RAMALAN LEDAKAN

Dari data perkembangan wereng coklat dan wereng punggung putih mulai 1984 sampai 2009 yang menunjukkan trend kenaikan populasi dan kecepatan berkembangbiak, maka diramalkan ledakan wereng punggung putih  di pertanaman padi akan terjadi pada beberapa tahun mendatang.  Ledakan wereng punggung putih disebabkan oleh beberapa faktor.
Pertama, bila  populasi awal wereng punggung putih lebih tinggi dibanding wereng coklat, maka akan terjadi kompetisi ruang dan makanan yang akan dimenangkan oleh wereng punggung putih.   Namun demikian dapat terjadi di pertanaman padi Jalur Pantura Jawa Barat ledakan wereng punggung putih saja  atau gabungan serangan wereng coklat dan wereng punggung putih, sedangkan di luar Jalur Pantura Jawa Barat yang akan menjadi kendala adalah wereng coklat.
 Kedua, ledakan akan terjadi pada varietas hibrida yang rentan wereng coklat dan wereng punggung putih, juga akan terjadi pada varietas inbrida yang tahan wereng coklat, namun rentan terhadap wereng punggung putih.
Ketiga, ledakan akan terjadi pada daerah Pantai Utara Jawa Barat dan dataran rendah daerah hot spot lainnya dikarenakan tidak efektifnya pengendalian dengan insektisida saat mencapai ambang kendali.  Hal ini disebabkan: a). tidak berfungsinya insektisida yang ampuh untuk wereng coklat, bila digunakan untuk wereng punggung putih, b) salah sasaran penggunaan insektisida.  Kekeliruan yang paling besar adalah waktu aplikasi tidak tepat.  Pada petani menggunakan pestisida dengan jalan semprotan banyak dilakukan mulai pukul 6.  Padahal air embun di lapangan pada pukul 6 mencapai 2450-2500 l/ha.  Bila petani mengaplikasikan pestisida pada pukul 6-7 maka akan terjadi pengenceran konsentrasi yang biasa menggunakan air 500 l/ha sekarang menjadi 2950-3000 l/ha, suatu volume air yang mengencerkan pestisida menjadi tidak efektif.
Keempat, pengendalian hama terpadu (PHT) kurang dipahami dengan baik, petani yang dilatih SL-PHT dulu sudah tua, sedangkan untuk yang muda masih belum menguasai, bahkan tidak dapat membedakan maka kerusakan akibat hama dan mana kerusakan akibat penyakit.
 Kelima, di lapangan masih desintegrasi karena ada kelompok SL-Iklim, SL-PHT, dan SL-PTT. Padahal petani yang menjadi objek SL adalah itu-itu juga. Petani menjadi bingung.  Untuk masa yang akan datang sebaiknya Sekolah Lapangan (SL) hanya ada satu yaitu SL-PTT yang didalamnya sudah mencakup SL-PHT, SL-Iklim, Nutrien Management, Gulma Management, managemen rotasi dan distribusi varietas, dan managemen irigasi.

SAATNYA MENINGKATKAN POSISI TAWAR PETANI PADI
Oleh: Nunung Nurhadi, SP.
Widyaiswara Muda BBPP Ketindan

Salah satu program Kementerian Pertanian adalah swasembada yang berkelanjutan. Padi sebagai makanan pokok di Indonesia menjadi komoditas yang sangat strategis dalam penyediaan pangan nasional, mendapat prioritas lebih dari pemerintah terutama dalam bidang on-farm atau budidaya. Kita mengenal Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi (PTT Padi) yang dicetuskan sosialisasinya oleh Badan Penelitihan dan Pengembangan Pertanian, kita mengenal juga System of Rice Intensification (SRI) yang banyak dipakai petani sebagai absobsi teknologi budidaya dari luar negeri. Penerapan dan pemilihan teknologi budidaya memang sangat penting dilakukan dalam rangka mempertahankan bahkan meningkatkan produksi.
Namun tidak kalah penting lagi adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan petani padi sebagai pelaku utama dalam rangka program swasembada berkelanjutan. Akan sangat disayangkan apabila secara program mempertahankan swasembada padi dapat tercapai tetapi justru posisi tawar yang berbuntut pendapatan dan kesejahteraan petani tidak meningkat pula. Posisi tawar petani hanya dapat diatasi dengan perbaikan kelembagaan petani utamanya yang bergerak di off-farm, sangat tidak diinginkan pada saat panen raya petani padi tidak mendapatkan harga yang layak atau dipermainkan oleh tengkulak.  Lumbung Desa Modern (LDM) adalah salah satu jawaban untuk meningkatkan posisi tawar petani. Sebagai contoh LDM yang berada di kabupaten Malang yang di pimpin oleh Bp. Trisno Pamuji, SP., LDM ini merupakan UPTD Saprodi dan Pengolahan Hasil dibawah Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang, dimana pengembangan sistem dan kelembagaan LDM Kabupaten Malang adalah untuk memberdayakan petani padi dalam mengatasi gejolak harga dengan mengembangkan manajemen stok , disertai distribusi yang optimal untuk: (1) Mengintegrasikan sub sistem produksi dan pasar untuk menjamin kepastian harga gabah atau beras dalam memperbaiki pendapatan petani padi; (2) Memasyarakatkan dan memperkuat sistem dan peranan lumbung pangan dan nilai tambah pendapatan petani; (3) Mengembangkan kerjasama kemitraan dengan berbagai mitra kerja untuk merintis agribisnis beras berbasis LDM dengan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan. Dalam menjalankan misinya LDM Malang dilengkapi mesin pengering berkapasitas 7 ton per proses, lantai jemur berkapasitas 3 ton per proses, rice milling unit berkapasitas 5 kwintal perjam, dan gudang penyimpanan berkapasitas 300 ton. Adapun kegiatan LDM adalah : (a) melaksanakan pembelian gabah petani di kawasan Kabupaten Malang, yang walaupun saat ini pembelian gabah hanya dilakukan di Kecamatan Kepanjen dan sekitarnya; (b) membantu proses pengeringan gabah petani; (c) menyiapkan sarana gudang untuk penyimpanan gabah petani sambil menunggu perkembangan harga pada kegiatan yang disebut “tunda jual”, hal ini sangat diperlukan petani apabila harga di pasaran terlalu rendah; (d) menyediakan “dana talangan” bagi petani yang melaksanakan lanjut proses sebelum beras mereka terjual, program ini diperlukan petani yang modalnya pas-pasan sehingga pengerjaan lahan tidak tertunda dan bisa dilakukan tanpa harus menunggu terjualnya beras; (d) memfasilitasi penjualan beras petani melalui usaha agribisnis beras, yang saat ini LDM Malang sudah bermitra dengan beberapa perusahaan dan hotel. Menurut keterangan dari Bp. Sutrisno Pamuji, SP., melalui proses off-farm kerjasama dengan LDM, petani padi dapat meningkatkan pendapatan antara 1 juta sampai 1,5 juta perhektarnya dan petani mempunyai alternatif pilihan untuk menjual hasil gabahnya tidak hanya satu tujuan yaitu tengkulak, disamping itu petani juga mendapat fasilitas dana talangan selama gabah masih tunda jual atau proses di LDM.
LDM Malang hanya salah satu contoh kelembagaan yang meningkatkan posisi tawar petani padi dalam rangka peningkatan pendapatan dan kesejahteraan para pelaku utama swasembada padi berkelanjutan. Bukan tidak mungkin LDM dibangun ditiap kabupaten melalui APBD di masing-masing kabupaten, dan bukan tidak mungkin LDM didirikan dari, oleh dan untuk petani itu sendiri. Misal, Gapoktan PUAP mendirikan LDM, yang otomatis selain meningkatkan posisi tawar petani itu sendiri, keuntungan dari beroperasinya LDM dapat dinikmati seluruh anggota dalam pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU), pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan seluruh anggotanya. Semoga bermanfaat.

ALTERNATIF MANAJEMEN PEMASARAN BERAS PADA AKAR RUMPUT 
Nunung Nurhadi
Widyaiswara Muda BBPP Ketindan

Adalah bedah buku sekaligus peluncuran buku yang berjudul “Pertanian Berkelanjutan Basis Padi Melalui Jembatan SRI (System of Rice Intensifications)”, kerjasama Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) PT. HM. Sampoerna dengan tim penulis dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang, yang diselenggarakan di Desa Gunting, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, tanggal 7 Juli 2011. Kegiatan dihadiri oleh Norman Upphoff selaku penyebar SRI, Dirjen Pengelolaan Lahan dan Air (PLA) Kementerian Pertanian, segenap tim penulis dan undangan.
Buku ini merupakan rangkuman atau intisari kegiatan pengabdian masyarakat PPK PT. HM. Sampoerna dalam membina petani padi, yang berisikan teknis budidaya tanaman padi mulai dari pembuatan kompos, perbenihan sampai pasca panen, juga kaitan pemasaran dan masalah sosial lainnya. Ada hal yang menarik dalam buku ini yang akan saya kemukakan, yaitu penerapan “petani yang menanam, yang memetik, yang mengolah dan petani pulalah yang menjual”. Dalam konsep ini memang banyak sekali kendala yang akan dihadapi, tetapi pengalaman kelompok Karya Mulya, Desa Sumberrejo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan ini bisa dijadikan panutan, karena kelompok ini bisa merangkul pedagang pengumpul, pengusaha penggilingan padi dan menetapkan harga beras di tingkat petani.

Kerjasama dengan pedagang pengumpul, usaha kelompok di lakukan oleh pelaksana harian. Upaya untuk menjalin kerjasama dengan pengumpul setempat di dasarkan pada pertimbangan efisiensi waktu dan tenaga. Pedagang pengumpul sesuai pengalamannya pasti sudah sangat mahir dalam menentukan kadar air dan jumlah gabah hampa yang akan dibeli, selain itu pengurus juga tidak akan disibukkan dengan biaya tambahan harian, ongkos transportasi, menimbang dan sebagainya. Oleh karena itu urusan pembelian gabah dari anggota kelompok diserahkan ke pedagang pengumpul lokal yang mau diajak kerjasama. Agar pedagang pengumpul mau diajak kerjasama kelompok Karya Mulya menawarkan keuntungan yang biasanya diterima oleh pedagang pengumpul. Biasanya pedagang pengumpul melakukan aktifitas membeli, menimbang, mengangkut dari lahan ke tempat penggilingan padi mereka mengambil margin Rp. 50,- sampai Rp. 75,-. Dalam proses pembelian pedagang pengumpul diminta untuk mencatat gabah dan estimasi prosentase kadar air serta gabah hampa yang dibeli dari anggota. Catatan berat brutto dan pengurangan karena kadar air serta hampa selanjutnya diberikan kepada bendahara kelompok sebagai dasar pembayaran pembelian gabah kepada petani. Petani anggota kelompok mendapatkan harga pada umumnya ditambah Rp. 100,-/kg (pembagian keuntungan dari kelompok bagi penjual gabah ke kelompok). Ada beberapa keuntungan bagi pedagang pengepul diantaranya: a. tidak perlu modal uang kontan, karena pembayaran dilakukan oleh kelompok; b. ada jaminan pasokan gabah, karena ada kepastian informasi jumlah petani dan luas panen; c. keuntungan bisa langsung diprediksi dengan tepat. Bagi petani akan mendapatkan jaminan pasar dan jaminan harga, sementara bagi pengurus harian akan mendapat kepastian kualitas gabah yang akan dibeli karena ada informasi kadar air dan gabah hampa sebagai dasar pembayaran.

Kerjasama dengan penggilingan padi lokal, upaya kerjasama ini di dasarkan atas pertimbangan kendala kelompok yang tidak memiliki lantai jemur, tempat penyimpanan gabah dan tenaga kerja. Mekanismenya hampir sama dengan mekanisme pada kerjasama dengan pedagang pengumpul, yaitu dengan menawarkan keuntungan sebesar yang biasa diperoleh oleh pengusaha penggilingan padi. Pengusaha penggilinggan padi akan melakukan fungsi fisik yaitu aktifitas penjemuran, penggilingan dan penyimpanan sementara, yang dari aktifitas itu pengusaha penggilingan padi akan mengambil margin sebesar Rp. 75,- /kg gabah. Selain itu produk sampingan seperti sekam dan katul menjadi hak pengusaha penggilingan. Pengusaha penggilingan akan diminta memberikan informasi tingkat rendemen kepada ketua kelompok dan bendahara Karya Mulya. Informasi rendemen itu yang nantinya akan dijadikan dasar pembayaran pembelian beras kepada anggota kelompok.

Penetapan harga beras, seandainya harga gabah di pasaran secara umum sebesar Rp. 2.500,- /kg dan pedagang pengumpul maupun pengusaha penggilingan masing masing mengambil margin Rp. 75,-/kg gabah, maka harga pembelian gabah di tingkat petani anggota kelompok sebesar Rp. 2.500,- + (2 x Rp. 75) + Rp. 100,- = Rp. 2.750,-. Tambahan Rp. 100,- adalah keuntungan petani yang diberikan oleh kelompok untuk per kg gabah. Bila rendemen 50% maka maka harga beras adalah Rp. 5.500,-. Kemudian kelompok mengambil keuntungan sebesar Rp. 200,- /kg beras curah sehingga harga jual beras kemasyarakat adalah Rp. 5.700,-. Keuntungan kelompok tersebut didistribusikan untuk tim pelaksana yang terdiri dari 4 orang sebesar 70% dan sisanya masuk ke dalam kas kelompok. Tim pelaksana bertanggung jawab mengawasi mulai dari proses panen (bersama pedagang pengumpul) hingga menjadi produk beras (bersama pengusaha penggilingan). Beras curah yang diproduksi kelompok dijual bebas ke internal kelompok dan dipasarkan kembali oleh anggota kelompok. Margin yang didapat merupakan hak yang bersangkutan. Misalnya, seorang anggota menjual beras kepihak lain senilai Rp. 6.000,-/kg maka keuntungan yang bersangkutan adalah Rp. 300,-/kg. Sementara itu di internal kelompok juga ada yang menjual dalam bentuk kemasan 5 kg-an dan dijual menjadi Rp. 7.000,-/kg atau Rp. 35.000,-/5kg atau sampai Rp. 37.500/5kg. Dari yang dilakukan tersebut,  penjual mendapatkan keuntungan lebih besar dari pada dijual curah, disamping itu juga menciptakan lapangan kerja baru dengan membentuk divisi sablon dan pengemasan.

Semoga bermanfaat…


Produk binaan BBPP Ketindan

PRODUK POLL ECHO

Bumbu Pecel Murni “Poll Echo”  terbuat dari bahan pilihan yang merupakan perpaduan dari kacang tanah,  gula merah, cabe, bawang putih, kencur dan daun jeruk purut yang diadaptasi dari resep bumbu pecel Ponorogo.
Bumbu Pecel Murni “Poll Echo”  dijamin alami tanpa bahan pengawet sintetis dan MSG. Bagi anda yang sedang menjalani hidup sehat dan menghindari bahan aditif yang berbahaya dalam makanan maka sangat tepat anda mengkonsumsi bumbu pecel ini.
Dikemas didalam cup plastik kemudian disiler, hal ini untuk menjaga supaya tetap higienis. Terdiri dari 3 tingkat kepedasan yaitu: Pedas, Sedang dan Tidak Pedas. Cocok juga untuk oleh-oleh.
Kami menawarkan bumbu ini dengan harga spesial yang menarik bagi anda. 
1.     Kemasan Gelas Besar (280 gr)
-         Harga Agen Rp. 7.500,- / biji
-         Harga Eceran Rp. 8.000/ biji
2.     Kemasan Gelas Kecil (140 gr)
-         Harga Agen Rp. 4.100,- / biji
-         Harga Eceran Rp. 4.500,- /biji
3.     Odolan/Kocoran
-         ½ kg kocoran Rp. 15.000,-
-         1 kg kocoran Rp. 28.000,-
Silahkan hubungi HP. 087775888849
Domisili Lawang - Malang
Ini alamat web yang akan banyak membahas tentang masalah pertanian masa kini